Kamis, 18 Agustus 2011

Bekal Sukses Itu Bernama "PD"


Ditulis oleh: Anne Ahira
diteruskan oleh JOJO

Masalah krisis kepercayaan diri (krisis
PD) seringkali menjadi salah satu
masalah klasik yang dialami oleh
sebagian orang.

Meski kelihatannya sederhana, namun
jika dibiarkan berlama-lama, krisis PD
bisa jadi bumerang tersendiri. Salah
satunya, potensi yang ada dalam diri
kita akan terhambat.

Sekarang mari kita ulas sejauh mana
pengaruh kepercayaan diri bisa
mempengaruhi keberhasilan seseorang.

Saat menghadiri seminar atau sebuah
pertemuan misalnya, banyak di antara
kita yang lebih nyaman memilih tempat
duduk di belakang ketimbang di depan.

Alasannya kadang sederhana.. "takut
ditanya sama si pembicara". lol

Namun saat seminar sudah dimulai, yang
duduk paling belakang seringkali jadi
tidak begitu kelihatan atau terdengar
dengan baik apa yang dibicarakan oleh
si pembicara karena terhalang oleh
mereka yang duduk di depan!

Pernah merasa seperti itu? :-)

Atau saat kita masih berstatus pelajar,
apakah kita termasuk yang malu-malu
untuk angkat tangan dan memberikan
jawaban yang sebenarnya kita tahu atas
pertanyaan yang ditanyakan guru kita? :-)

Sekarang, mari kita cari tahu apa saja
yang menyebabkan orang suka minder atau
kurang PD! Berikut beberapa alasannya:

1. Sering berpikir yang 'tidak-tidak'
tentang diri mereka!

"Coba kalau aku tinggi, aku mau dong
jadi model terkenal seperti Luna Maya!
...Tapi sayang, aku nih pendek & item,
gigiku gondrong lagi!!"
** lol, kasihan amet... hehe

jangan pernah memandang
sebelah mata terhadap diri kita. Semua yg
kita miliki adalah anugerah Tuhan yang pasti
ada manfaatnya.

2. "Takut Salah" bisa membuat kita
tidak maju.

Jika kita selalu takut salah dalam
melakukan sesuatu, maka pastinya kita
tidak akan pernah bisa berhasil.

Janganlah takut salah! Karena
kesalahan sebenarnya adalah langkah
awal menuju keberhasilan.

Tokoh-tokoh besar dunia yang
penemuannya sekarang kita nikmati,
dulunya mereka banyak melakukan
kesalahan. Namun, mereka terus dan
terus mencoba untuk memperbaiki
kesalahannya hingga tercipta sebuah
penemuan yang besar, seperti lampu
pijar, pesawat terbang, Google :-)

Dan masih banyak lagi yang lain!
Oleh sebab itu, jangan pernah takut
salah!

3. Jika kita bergaul dengan pengecut,
otomatis kita juga akan jadi pengecut

pergaulan bisa mempengaruhi
kepribadian kita. Jika kita berada di
lingkungan yang mayoritas tidak punya
rasa PD tinggi, maka jangan harap
bisa PD.

Yakinlah, sedikit banyak, PD kita
sangat dipengaruhi oleh lingkungan
dimana kita berada. Oleh sebab itu,
pandai-pandailah mencari teman atau
pergaulan yang memiliki kepercayaan
tinggi.

anda juga pasti pernah mendengar
istilah "Jika ingin kaya, bergaulah
dengan orang-orang kaya".

Maksudnya, bukan berarti kalau kita
tidak punya uang bisa bersandar pada
mereka dan pinjam uang! :-) Tapi tujuan
kita adalah bisa menyerap 'cara
berpikir' mereka yang bisa membuat
mereka menjadi kaya!

4. Tidak perlu terpengaruh pendapat
orang lain

Kita seringkali terpengaruh dengan
pendapat orang lain. Sayangnya, tidak
semua pendapat itu benar. Pendapat atau
masukan dari luar boleh saja kita
tampung. Tugas kita adalah *mengolahnya*,
sekaligus untuk evaluasi diri.

Jika ada pendapat yang justru membuat
kita menjadi mundur dan tidak
berhasil, maka kita perlu menolaknya,
tanpa perlu terpengaruh oleh pendapat
itu.

Singkat kata, hilangkan jauh-jauh rasa
minder dalam diri kita. tidak
perlu resah dengan kekurangan yang ada.
Jika ada melakukan kesalahan, tinggal
perbaiki kesalahan yang buat, dan
jadikan kesalahan itu sebagai pengalaman.
The last but not least...
Selalu perkaya diri dengan ilmu
.
Karena dengan memiliki banyak ilmu,
otomatis kekurangan kita dalam hal lain bisa
tertutupi oleh kelebihan lain yang kita miliki!

begitu banyak orang yang tidak
menyadari 'sleeping giant' dalam
dirinya. Potensi dahsyat dan besar yang
acapkali diabaikan oleh alam pikirannya
sendiri, yaitu perasaan minder!

So, percaya dirilah ! Agar semua potensi
dahsyat yang di miliki *keluar* dan
tidak lagi terhambat! :-)

Putuskan Benang Itu!



Ditulis oleh: Anne Ahira

diteruskan oleh JOJO

"Seutas benang itu sesungguhnya hanya
ada dalam pikiran Anda!"

Ada kisah nyata tentang seekor gajah.
Sejak kecil ia sudah dirantai kakinya
dengan seutas rantai sepanjang 4 meter.

Apa yang terjadi ketika rantai itu
diganti dengan seutas benang?

Gajah itu tetap saja berkeliling & tidak
berani melangkah keluar dari area
lingkaran 4 meter tersebut!

Dari kisah ini, pelajaran apa yang
bisa kita ambil?

Maaf, saya tidak bermaksud menyamakan
diri kita dengan seekor gajah. :-)

Namun bisa jadi, kita pun memiliki
'keterbelengguan' dengan seutas tali
yang mengikat diri kita!

Kita tidak berani keluar dari zona yang
dianggap nyaman. Meski sesungguhnya,
kita bisa melakukan banyak hal hebat
dari perkiraan kita!

Mari kita jujur pada diri sendiri,
berapa banyak kesempatan yg sebenarnya
hadir, melintas di depan anda, namun
anda tidak mempedulikannya?

anda mungkin menganggap peluang itu
'terlalu tinggi' untuk anda, dan
merasa tidak pantas berada disana.

Atau mungkin anda malah merasa tidak
mampu untuk melakukan hal itu padahal
sama sekali belum pernah mencobanya?

Kita semua tahu, segala hal yang
menurut kita 'begitu hebat', seringkali
tidak selalu seperti yang kita
bayangkan.

Atau hal yang kita anggap sulit,
kadang sebenarnya sangat gampang!

Ada dua kunci dalam hal ini :

1. anda akan bisa jika anda berpikir bisa
2. anda akan gagal jika anda berpikir gagal

So, jangan menyalahkan siapapun jika
kesuksesan belum menghampiri diri kita.
Sebab, faktor utamanya terletak pada
diri kita sendiri.

Oleh sebab itu, perhatikan dengan
seksama, dan tanya pada diri sendiri,
adakah seutas benang yang telah
membelenggu diri kita selama ini?

Jika ya, maka segeralah untuk putuskan
benang itu!

Cobalah bergerak maju dari lingkaran
yang selama ini kita buat dan telah
membelenggu diri kita sendiri!

Peluang itu sebenarnya selalu hadir
kapan saja. Namun, karena kita selalu
saja menutup mata, telinga, dan pikiran
kita, maka peluang itu akan terlewat
begitu saja!

Jika anda masih saja ragu untuk
melangkah, cobalah untuk melatihnya
sedikit demi sedikit. Dan jika anda
sudah yakin, maka segeralah berlari cepat,
keluar dari keterbelengguan anda!

Jika sudah seperti ini, maka siapa lagi
yang diuntungkan, jika bukan anda
sendiri? :-)



Okay, sampai ketemu nanti! :-)

Peran Pribadi Di Dunia Kecil Kita

Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Dunia kita terbilang besar. Buktinya, tak seorangpun pernah menginjakkan kakinya di setiap jengkal tanah. Dunia kita juga kecil. Buktinya, kita lebih banyak menghabiskan waktu di tempat atau lingkungan yang itu-itu saja. Di awal milenium ketiga, kita menyebut dunia sudah menjadi datar. Mungkin, hari ini kita boleh mengatakan jika dunia sudah mengkerut. Betapa tidak? Jarak sudah tidak lagi relevan dizaman ini. Pengaruh tindakan kita bisa secepat kilat menyebar ke seluruh dunia. Gagasan yang dilontarkan seseorang di New York City, bisa sampai ke Jakarta dalam sepersekian detik. Sebaliknya, gagasan yang kita bagikan di Jakarta, bisa memasuki setiap lorong jembatan komunikasi di seluruh dunia dalam sekejap mata. Kecilnya dunia, tidak hanya berupa kiasan. Tetapi juga bermakna sebenarnya. Lingkungan yang kita tinggali, adalah dunia kecil yang sesungguhnya. Sudahkah kita memainkan peran pribadi untuk menjadikan dunia kecil kita lebih baik dari hari ke hari?
Sudah lama saya tidak menggunakan jembatan yang menghubungkan Polda Metro Jaya dan Plaza Semanggi. Ketika kesana kemarin, suasananya berbeda sekali. Sejak menginjak tangga pertama, saya tidak melihat sampah atau debu yang biasanya menumpuk. Begitu tiba diatas, saya mengerti; mengapa jembatan itu sedemikian bersihnya. Ada seorang pribadi istimewa yang beringsut-ingsut menyapunya. Mengapa dia istimewa? Karena tubuhnya tidak sesempurna kebanyakan orang. Namun, dengan tangan yang hanya sebelah itu, dia melakukan sesuatu yang membuat lingkungannya menjadi bersih. Dalam keadaan yang serba terbatas itu, dia telah memainkan peran penting untuk menjadikan dunia kecilnya indah. Bagaimana dengan kita? Bagi Anda yang tertarik untuk menemani saya belajar mengambil peran pribadi dalam dunia kecil yang kita huni, saya ajak untuk memulainya dengan mempraktekkan 5 pemahaman Natural Intellligence berikut ini:
1. Pilihlah peranmu sendiri. Ada yang berperan sebagai pengemis, pedagang, pejalan kaki, pembuang sampah, bahkan mungkin juga disana ada pencoleng. Tetapi, Bapak yang tubuhnya tidak sesempurna kita itu memilih perannya sendiri. Peran yang sungguh membuat dunia kecil itu begitu indah. Semua jembatan penyeberangan membutuhkan orang yang mau memilih peran positif seperti beliau. Dunia kecil yang kita tinggali juga sama. Dunia kecil kita, bisa saja berupa ruang kantor yang yang kita datangi setiap hari. Komplek perumahan yang kita tinggali. Atau komunitas dunia maya dimana kita bergabung didalamnya. Didalam dunia kecil kita, setiap orang mengambil perannya sendiri-sendiri. Pribadi istimewa itu menunjukkan bahwa dimanapun kita berada, hendaknya kita memilih peran kita sendiri. Beliau memberi contoh agar kita mengambil peran yang bernilai dan memberi dampak positif bagi dunia kecil kita. Beliau tidak memiliki kesempurnaan fisik. Namun jiwanya begitu sempurna. Pakaian yang beliau kenakan dipenuhi dengan debu. Namun, hati beliau berkilau dengan cahaya. Melihat beliau, seolah sedang menyeru sebuah kalimat indah; “Wahai pribadi-pribadi yang fisiknya sempurna, sudahkah engkau memilih peran untuk memperindah dunia kecilmu?”
2. Mainkanlah peran pilihanmu sendiri. Secara struktural, Dinas Kebersihan DKI bertanggungjawab untuk memastikan semua jembatan penyeberangan dan fasilitas umum di Jakarta tetap bersih. Tetapi, menumpahkan semua tanggungjawab itu kepundak petugas kebersihan sungguh tidak realistis. Pribadi istimewa itu, memainkan perannya dengan piawai tanpa banyak bicara, karena beliau faham benar bahwa perannya memang bukan sebagai ‘pembicara’. Beliau sadar bahwa tempat para pembicara adalah di ruang-ruang meeting dan forum ilmiah. Bukan didunia kecil yang dihuninya. Tidak cocok jika dia berbicara ditempat itu. Di kantor atau di lingkungan rumah kita juga sama. Setiap orang memiliki perannya masing-masing untuk memperindah dunia kecil itu. Sayangnya kita masih sering menggerutu. Pak RT dan Pak managernya kurang perhatian. Pak direkturnya sibuk sendiri. Pak Presidennya kurang tegas mengambil keputusan. Barangkali, memang itulah peran yang mereka pilih untuk dunianya. Namun, pribadi istimewa di jembatan penyeberangan itu, tidak tertarik untuk menghakimi peran orang lain. Dia memilih untuk memainkan peran penting yang dipilihnya sendiri; menjadikan dunia kecilnya indah. Sudahkah kita memainkan peran yang kita pilih?
3. Jauhilah sifat pamrih kepada manusia. Pribadi istimewa itu memiliki begitu banyak pilihan untuk meminta imbalan. Bahkan imbalan untuk sekedar duduk disana. Dia bisa saja mengemis seperti ‘penghuni’ lainnya. Tetapi tidak melakukannya. Dia bisa saja meminta upah atas pekerjaan pembersihan yang dilakukannya. Tetapi, dia juga tidak lakukan. Jika Anda melintas di jembatan itu, tataplah wajahnya. Anda tidak akan melihat isyarat meminta imbalan kepada Anda yang melintasi jembatan yang dibersihkannya. Jelas sekali jika beliau tidak memiliki pamrih kepada manusia. Jadi, siapa yang membalas jasanya? Kita yang bertubuh sempurna ini sering menuntut imbalan dimuka. ‘What in it for me?’ begitulah bahasa kerennya. Kalau tidak ada imbalannya, ngapain saya melakukannya? Tuhan menggerakkan hati orang-orang baik untuk berbagi rezeki dengan pribadi istimewa yang telah berbuat baik dalam dunia kecilnya itu. Semoga Tuhan pun berkenan untuk menjamin kecukupan dan berkah nafkah orang-orang yang tanpa pamrih memainkan peran positif bagi dunia kecilnya masing-masing.
4. Hunilah dunia kecil yang sudah kita benahi. Hitungan matematis kita sering mengkalkulasi untung dan rugi. Rasanya rugi sekali jika kita melakukan tindakan baik tetapi orang lain yang menikmatinya. Enak di elo, susah di gue! Apalagi jika manfaat tindakan baik yang kita lakukan itu didapatkan oleh orang-orang yang tidak kita kenali. Pribadi istimewa itu tidak mengenal saya. Tidak juga mengenal orang lainnya yang berjalan hilir mudik. Tapi saya percaya sepenuhnya bahwa setiap orang yang melintas disana merasakan nyamannya berjalan dijembatan penyeberangan yang bersih lagi rapi. Berbeda 180 derajat dengan kebanyakan jembatan penyeberangan lainnya yang penuh sampah, bahkan kadang berbau pesing. Orang itu melakukan sesuatu untuk orang-orang yang tidak dikenalnya. Tetapi lebih dari itu, beliau sendiripun turut merasakan kebersihan yang diciptakannya sendiri. Jika kita bersedia untuk melakukan sesuatu bagi keindahan dunia kecil kita, maka bukan hanya orang lain yang bisa memetik manfaatnya. Kita sendiripun bisa merasakannya. Bahkan boleh jadi, kepuasan didalam hati kita melampaui kenikmatan fisikal yang kita dapatkan. Maka benahilah dunia kecilmu. Dengan begitu, engkau akan menghuni tempat yang lebih indah untuk dirimu.
5. Rancanglah dunia kecil masa depanmu. Iman kita memberitakan tentang sebuah tempat yang menjadi asal muasal diri kita. Semua orang berusaha untuk bisa kembali lagi ketempat itu. Tempat dimana manusia pertama yang menjadi nenek moyang sejati kita tinggal. Kita menyebutnya surga. Guru kehidupan saya menceritakan bahwa surga itu sebuah tempat hunian indah nan asri. Setiap rumah dibangun dengan rancangan arsitektur yang berbeda-beda. Setiap orang memiliki rumah dengan model dan disainnya sendiri-sendiri. Siapakah arsitek yang sedemikian piawainya membuat disain yang bervariasi? Malaikatkah? Bukan. Tuhankah? Bukan. Lantas siapa? Arsiteknya adalah penghuninya sendiri. Lantas, bagaimana orang awam bisa membuat arsitektur hunian yang sedemikian indahnya? Beliau bilang;”Setiap perbuatan baik seseorang, menghasilkan sebuah goresan garis rancangan.” Maka setiap gerakan sapu dari tangan pribadi istimewa di jembatan penyeberangan itu, menghasilkan satu garis indah dalam rancangan arsitektur rumah surganya. Perbanyaklah perbuatan baik, agar disain rancangan rumah surgamu menjadi semakin sempurna. Karena kesempurnaan rancangan hunian abadi kita, ditentukan oleh kesempurnaan amak baik yang kita lakukan untuk dunia kecil kita.
Dunia yang kita huni adalah cermin yang memantulkan perilaku kita apa adanya. Selama masih ada orang yang peduli untuk selalu membuatnya menjadi indah, maka dia akan selalu memperlihatkan pantulan indah. Tetapi jika tak seorangpun peduli, dunia kecil ini pun akan memperlihatkan citra ketidakpedulian penghuninya. Jika kita masih sering merasakan dunia kecil kita tidak nyaman untuk dihuni, mungkin karena tak seorangpun bersedia untuk membenahinya. Jika kita tidak melakukannya dengan tangan kita sendiri, mungkin ada orang lain yang akan melakukannya. Mungkin juga tidak. Tetapi jika kita bersedia melakukannya dengan tangan kita sendiri, mungkin kita bisa membuat sebuah perbedaan kecil, namun cukup bermakna. Dunia seperti apakah yang ingin Anda huni?
Mari Berbagi Semangat!

diteruskan oleh JOJO
DEKA - Dadang Kadarusman

Rabu, 17 Agustus 2011

Seni Memaksimalkan Daya Tarik


Oleh: Anne Ahira
diteruskan oleh JOJO

Memiliki kepribadian yang menarik pasti diidamkan setiap insan. Saya, Anda, maupun siapa saja. Kehadiran pribadi yang menarik selalu dinanti-nantikan banyak orang. Ketiadaannya dirindukan.
Pertanyaannya, kualitas istimewa APA yang ada pada manusia, yang bisa membuat orang lain kagum dan terpesona? Dan... ANDA-kah orangnya?

Sebagian orang mungkin berpikir hanya orang-orang yang cantik, ganteng secara fisik, pintar, atau bahkan kaya yang memiliki daya tarik? Sebenarnya tidak demikian!
Setiap orang berpotensi untuk menjadi seorang insan yang memiliki daya tarik tinggi, menjadi sosok yang dielu dan diharapkan. Pesona seseorang bisa ditumbuhkan dan
diciptakan dengan energi positif yang dimilikinnya.

Bagaimana memunculkan aura positif, agar membuat ketertarikan bagi yang lainnya? Berikut adalah 7 Seni Memaksimalkan Daya Tarik:

Teruslah Berbuat Baik Tanpa Pernah
Menghitungnya


Lakukan kebaikan layaknya menulis di
atas pasir dan pahatlah di batu untuk
setiap kesalahan yang Anda lakukan.

Artinya, lupakan setiap kebaikan
kepada orang lain, tak perlu menghitung! :-)

Sikap seperti ini akan melatih keikhlasan,
dan pada saat terbiasa, anda akan
merasakan arti puas yang sejati.

Merendahlah Agar anda Menjadi Tinggi

Orang yang merendah justru banyak
disenangi orang lain. Lain halnya
dengan orang yang sombong, kerendahan
hati merupakan perwujudan dari
toleransi dan memiliki nilai yang
tinggi.

Kerendahan hati dan kedamaian saling
bertautan. Percayalah pada diri
sendiri, dan singkirkan keinginan untuk
selalu ingin membuktikan pada orang
lain.

Jagalah Kemurnian

Tampil 'apa adanya'. Jadilah diri
sendiri. Untuk memiliki daya tarik
kita tidak perlu menjadi orang lain.

Menjadi diri sendiri jauh lebih
bernilai ketimbang kita selalu ingin
tampil 'seperti orang lain'.

Jadilah Orang Yang Penuh Minat

Apa yang anda katakan pada diri sendiri
tentang kehidupan, dan diri anda
sendiri, dari hari ke hari, bisa memberikan
efek yang luar biasa.

Sepanjang waktu, lihatlah diri anda sendiri
sebagai pribadi yang menarik. Pertahankan
perasaaan itu sejelas mungkin dalam pikiran.

Dengan sendirinya, 'alam' akan menarik
segala hal yang penting untuk
menyempurnakan perasaan dan pandangan
anda itu.

Jadilah orang yang selalu ceria, penuh
harapan, dan buat dunia ini terpikat
pada anda

Wajah Ceria

Tertawa itu sehat. Buat wajah anda
selalu ceria.

Saat kita tersenyum, otak akan bereaksi
dan memproduksi endorphin (zat alami
yang memindahkan rasa sakit). Selain
itu, senyuman akan membuat anda
rileks. Senyuman juga akan menebarkan
kegembiraan pada orang lain.

Tekankan dalam pikiran, saat anda
bersama orang lain, bahwa senyuman
dapat memperpendek 'jarak' antar orang
lain.

Antusias dan Hasrat

Dua hal ini merupakan ibu yang
melahirkan sukses. Antusias dan hasrat
dapat mendatangkan uang, kekuatan dan
pengaruh. Hal besar tak akan dapat
dicapai tanpa antusias.

Yakin selalu pada apa yang anda
kerjakan. Kerjakan tiap pekerjaan anda
dengan penuh cinta. Masukan antusias
dalam pribadi anda, maka ia akan
menciptakan hal yang luar biasa buat
anda.

Tata Krama

Tingkah laku, kesopanan dan kebaikan
bisa membuat orang lain percaya pada
kita. Tata krama yang baik akan membuat
orang lain merasa nyaman dengan kita.

Tata karma merupakan sumber kesenangan,
memberikan rasa aman, dan ini dilakukan
dengan menunjukan penghormatan pada
oran lain.

Bersikap sopanlah pada setiap orang
yang anda kenal, tidak peduli status
dan kedudukan mereka. Perlakukanlah
setiap orang dengan tata krama.


Jangan Takut Dan Jangan Menyesal

sekedar ingin berbagi sebuah motivas hidup, semoga bermanfaat dan semoga sobat millis semua berkenan.

Di sebuah desa yang terpencil, tinggallah seorang pemuda yang ingin pergi mengembara ke negeri orang untuk mengubah nasib. Menjelang keberangkatan, muncul di hatinya perasaan takut, cemas, dan ragu. Untuk memantapkan tekadnya, pergilah si pemuda ini menghadap sesepuh marga di desa untuk meminta petunjuk, memohon restu, sekaligus berpamitan. Mendengar niat pemuda ini, sang sesepuh dengan gembira berkata, "Anakku, rahasia kehidupan ini hanya terdiri dari empat kata dan hari ini aku berikan setengahnya dulu sebagai bekal kepergianmu." Lalu sang sesepuh menuliskan dua kata, yaitu "jangan takut!".

Waktu terus berjalan, tidak terasa 30 tahun telah berlalu. Berbagai suka dan duka telah dijalani sang pemuda. Dengan modal kata "jangan takut!", segala peluang dan tantangan ia hadapi dengan keyakinan dan penuh keberanian. Dengan sikap mental yang kuat akhirnya ia berhasil mengubah nasibnya. Pemuda itu kini telah menjadi seorang yang sukses serta sangat terpandang di negeri itu.

Namun dalam segala keberhasilannya, ia merasa ada sesuatu yang kurang sempurna dan ia menyesal tidak mampu memecahkan masalah tersebut. Ia berusaha keras mencari tahu apa penyebabnya, tetapi pikirannya justru bertambah kacau dan tidak terarah. Saat dalam kegamangan itulah ia teringat dengan sang sesepuh yang telah memberinya dua kata bijak. "Bukankah beliau masih menyimpan dua kata bijak lagi yang dijanjikan akan diberikannya kepadaku?" gumannya. Ia pun memutuskan pulang kembali ke desanya dahulu untuk menemui sang sesepuh untuk meminta sisa dua kata yang dijanjikan. Sayangnya sesampai di desa sesepuh desa ternyata telah meninggal dunia. Manun, ada sepucuk surat wasiat yang ditinggalkan untuknya. Rupanya sang sesepuh sudah memperkirakan bahwa kelak suatu hari pemuda itu pasti akan kembali. Secepatnya dibukalah surat wasiat itu, dan di dalamnya berisi pesan "jangan menyesal!" Begitu selesai membaca kata-kata itu, secara spontan perasaan menyesal yang membebaninya selama ini langsung hilang, perasaannya menjadi ringan dan gembira.

Sungguh berbobot empat kata bijak tadi. Jangan takut, dan jangan menyesal. Anda, saya dan kita semua juga membutuhkan empat kata bijak tadi. Jika ingin menciptakan kehidupan yang lebih baik, kita membutuhkan dua kata bijak pertama"jangan takut". Kata bijak ini mengandung motivasi yang dapat melahirkan kekuatan keberanian untuk bertindak. Jangan takut menentukan cita-cita yang tinggi! Jangan takut mencoba dan memulai! Jangan takut menerima tantangan! Jangan takut memeras keringat! Jangan takut mengemban tanggung jawab yang lebih besar!

Namun ada kalanya, hasil perjuangan tidak sesuai dengan harapan. Hambatan demi hambatan seolah memang diciptakan untuk menghadang kita. Perjuangan pun bisa gagal total. Ini bisa membuat kita merasa diliputi ketidak puasan, kecewa, penyesalan. Pada titik seperti ini, dua kata bijak berikutnya, "jangan menyesal", bisa menjadi kunci kebangkitan kita. Buang jauh-jauh pikiran negatif. Penyesalan tidak akan dapat mengubah apapun, malah hanya membebani dan menghambat langkah kita ke depan. Mampu menerima hasil perjuangan apa adanya adalah bijaksana, tetapi mau tetap bangkit dengan apa adanya kita hari ini adalah luar biasa. Selama kita telah berjuang memberikan yang terbaik dari yang kita miliki, apa pun hasilnya, sukses atau gagal, yang pasti semangat perjuangan itu telah memiliki nilai kesuksesan tersendiri.


Miliki Giginya Dulu, Barulah Bisa Unjuk Gigi


Hore,Hari Baru! Teman-teman.

Seberapa penting arti ‘gigi’ bagi Anda? Secara harfiah, gigi sangat bermakna untuk menjalani hidup kita. Bayangkan seandainya kita tidak punya gigi. Bukan hanya sulit mengunyah makanan, tetapi sudah pasti ‘wajah’ kita pun tidak terlihat indah. ‘Gigi’ juga memiliki makna kiasan. Seseorang yang tidak lagi memiliki pengaruh, misalnya; sering disebut ‘tidak punya gigi’, atau bahkan diidentikkan dengan ‘macan ompong’. Sebaliknya, menunjukkan keunggulan diri sering disebut ‘unjuk gigi’. Maka beruntunglah orang-orang yang memiliki gigi, karena dengan gigi itu dia tidak hanya bisa mengunyah, tetapi bisa menunjukkan siapa dirinya yang sesungguhnya. Pertanyaannya; bagaimana caranya agar kita memiliki gigi?

Anak bungsu saya mendapatkan serangan demam yang tinggi. Sambil mencoba untuk tetap tenang kami memberinya obat penurun panas. Keesokan harinya, secara ajaib dia sembuh seperti sedia kala. Di pagi hari itu, dia berlari kearah saya dan berkata;”Ayah, lihat gigiku tumbuh lagi!” Katanya. Oh, rupanya panas demam yang dialaminya kemarin karena hendak tumbuh gigi. Sebuah gigi seri yang mungil lagi lucu menyembul di gusi depannya. Gigi itu menggantikan gigi susu yang telah tanggal beberapa hari sebelumnya.

Mari perhatikan; gigi yang kita miliki ini, tidak tumbuh begitu saja. Untuk mendapatkannya kita harus melewati fase serangan demam yang tinggi. Maka boleh jadi, untuk mendapatkan ‘gigi’ dalam arti kiasan kita harus melewati masa-masa yang tidak menyenangkan terlebih dahulu. Gigi kiasan kita mewujud dalam beragam manifestasi. Misalnya, jabatan yang tinggi. Atau pendapatan yang besar. Atau keterampilan yang handal. Untuk mendapatkan semuanya itu, kita harus berani memasuki fase demam panas-dinginnya. Oleh sebab itu, maka setiap orang yang ingin dirinya sukses harus bersedia untuk menempuh lekuk likunya perjuangan meraih kesuksesan itu. Mereka yang enggan menjalani kesulitan, tidak akan pernah bisa sampai kepada pencapaian yang bermakna dalam hidupnya. Dia hanya akan menjadi orang yang biasa-biasa saja.

Hal ini juga menjadi isyarat agar kita tetap tangguh dikala berada dalam situasi yang serba sulit, atau cobaan hidup yang datang silih berganti. Karena boleh jadi, saat kesulitan itu berlangsung; didalam diri kita sedang terjadi proses tumbuh kembangnya ‘gigi-gigi’ kehidupan yang akan meningkatkan kualitas pribadi kita. Dengan demikian, maka setelah berhasil melewatinya; kita bisa tampil menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari yang sebelumnya. Artinya, kita sudah pantas untuk ‘unjuk gigi’. Seandainya kita menolak melewati kesulitan dan tantangan itu, maka ‘gigi’ kita tidak bisa tumbuh. Sehingga, kita tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk unjuk gigi seperti mereka yang memiliki keberanian dan ketegaran dalam menjalani ujian hidup. Maka beranilah dalam menghadapi hidup. Karena hidup yang penuh tantangan itu sedang menumbuhkan gigimu.

Seminggu kemudian, anak saya kembali diserang demam lagi. Kali ini panasnya sangat tinggi. Saking tingginya, sampai-sampai dia tidak lagi bisa bergerak. Obat penurun panas hanya mampu meredakan demamnya beberapa menit saja. Biasanya, meskipun dalam keadaan sakit dia masih bisa bermain ini dan itu. Tapi kali ini, dia benar-benar dibuat tidak berdaya. Bahkan untuk sekedar berbicara pun dia sudah tidak lagi bisa. Teringat akan wabah demam berdarah yang sedang melanda di wilayah kami, maka saya sungguh-sungguh mewaspadai gejala-gejalanya. Keesokan harinya, tidak ada tanda-tanda jika panasnya mereda. Dua hari sudah keadannya menjadi semakin berat saja. Di hari ketiga, sama sekali tidak ada perbaikan.

Ketika hasil laboratorium tidak menunjukkan adanya kelainan khusus, maka pasti ada penyebab lain hingga sakitnya sedemikian beratnya. Namun kami tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu sambil terus waspada. Dalam penantian selama 3 hari itu, anak saya terus mengigau dan gelisah. Saat badannya di pegangpun dia merasakan sakit yang tidak tertahankan. Ajaibnya, di hari ke-4, anak saya bisa bangun pagi dengan segar bugar seolah tidak mengalami sakit sebelumnya. Saya benar-benar penasaran. Maka saya mencoba memeriksa gusinya. Tidak ada gigi seri yang tumbuh seperti sebelumnya. Lalu saya memeriksa lebih dalam, ternyata; diujung lorong mulut anak saya ada benjolan besar berwana merah. Di tengah benjolah itu menyembul sebuah titik putih yang keras. Gigi graham. Sekarang saya mengerti apa yang terjadi.

Ternyata sumber penderitaannya selama 4 hari itu adalah proses tumbuh gigi graham. Menyimak kejadian itu, saya tiba-tiba tersadarkan bahwa proses tumbuh gigi graham lebih menyakitkan daripada gigi seri. Semua gigi seri yang kita miliki berfungsi untuk menggigit dan meningkatkan estetika. Sedangkan graham adalah gigi yang yang memiliki kekuatan yang paling besar diantara semuanya. Dia tidak terlihat dari luar, namun perannnya untuk hidup kita teramat sangat besar. Tanpa graham, fungsi mengunyah kita terganggu. Tentu kita akan sakit saat menelan, dan proses pencernaan tidak bisa berjalan secara efektif.

Rupanya melalui anak saya, Tuhan ingin menegaskan bahwa untuk mampu membangun kekuatan terbesar didalam diri saya; maka saya harus bersedia membayar dengan harga yang lebih besar. Untuk bisa menjadi pribadi yang benar-benar tangguh maka saya harus rela menjalani gemblengan, tantangan, cobaan dan ujian yang semakin berat. Oleh sebab itu, mulai saat itu; saya belajar untuk bergembira saat menghadapi situasi yang menyakitkan. Karena saya percaya, dibalik rasa sakit yang saya alami, tersembunyi sebuah jalan untuk meningkatkan kekuatan dan daya diri saya. Dari peristiwa itu, saya belajar untuk menjauhi cengeng dan mendekati sifat tegar. Dengan begitu, saya berharap suatu saat nanti saya bisa memiliki gigi-gigi yang kokoh, sehingga saya akan sampai kepada saat dimana saya; sudah boleh untuk ‘unjuk gigi’.

Mari Berbagi Semangat!

diteruskan oleh JOJO

Dadang Kadarusman

Berhentilah Mendelegasikan Tugas-Tugas Anda


Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Mungkin Anda mengira judul artikel saya ini sebagai sebuah lelucon. Bagaimana mungkin saya berani melanggar pakem kepemimpinan yang sudah sejak lama dipakai orang. Bukankah delegating itu merupakan salah satu skill penting dalam kepemimpinan? Saya bersungguh-sungguh mengajak Anda berhenti mendelegasikan tugas-tugas Anda kepada siapapun di kantor Anda. Meskipun ‘teknik delegasi’ itu sangat cocok untuk mengalihkan tanggungjawab kepada orang lain, atau bisa dijadikan alasan untuk mengeluhkan tentang ketidaksiapan orang lain dalam menerima pendelegasian yang kita berikan; namun ‘delegating’ sudah tidak lagi mampu menjawab tantangan kepemimpinan di zaman ini. Jadi, sebaiknya berhenti saja mendelegasikan tugas-tugas Anda kepada orang lain.
Selama ini kita percaya bahwa untuk bisa menjalankan fungsi kepemimpinan secara efektif, seseorang harus terampil mendelegasikan tugas-tugasnya. Setidak-tidaknya, begitulah yang diajarkan di kelas-kelas training dan buku-buku kepemimpinan. Tetapi, kita sering lupa bawah dunia nyata tidak selalu sejalan dengan teori-teori yang diajarkan. Bukankah teori yang sudah tidak sejalan dengan kebutuhan aktual kita di lapangan, sebaiknya ditinggalkan saja? Bagi Anda yang tertarik untuk menemani saya belajar memahami bahwa delegasi sudah tidak relevan lagi dengan tantangan kepemimpinan yang kita hadapi, saya ajak untuk memulainya dengan menerapkan 5 kemampuan Natural Intelligence berikut ini:
1. Sadarilah bahwa tanggungjawab kita tidak bisa dialihkan kepada orang lain. Selalu ada peluang yang menggoda untuk melemparkan tanggungjawab kepada orang lain. Dengan begitu kita memiliki lebih banyak waktu luang, dan bisa berkeja dengan lebih santai. Coba ingat-ingat kembali, betapa banyak pemimpin yang melemparkan tanggungjawabnya kepada bawahannya, lalu menyalahkan mereka ketika hasilnya ternyata dinilai tidak memuaskan? Tidak sedikit pemimpin yang terjebak didalam mental blaming seperti ini. Padahal, seperti halnya Anda yang tidak rela jika gaji Anda dialihkan kepada orang lain, maka demikian pula halnya dengan tanggungjawab professional yang Anda pikul; tidak sepatutnya dialihkan kepada orang lain.
2. Sadarilah bahwa pendelegasian menyebabkan orang lain merasa ketiban pekerjaan Anda. Bertanyalah kepada diri Anda sendiri; Apakah Anda menyukai saat-saat ketika seseorang memberikan pekerjaannya kepada Anda? Ketika Anda menilai bahwa seharusnya dia mengerjakan hal itu sendiri, maka hati kecil Anda akan berkata;”kalau perkejaan elo gue yang kerjain, lantas elo ngapain?” Boleh jadi, orang-orang yang Anda beri delegasi pun mengucapkan kata-kata yang sama. Namun, tentu saja tidak keluar dari mulut mereka. Jadi, kalaupun mereka mempersilakan Anda mendelegasikan pekerjaan Anda, mereka berharap agar Anda melakukannya kepada orang lain saja. Siapapun asal jangan mereka.
3. Sadarilah bahwa tidak seorangpun menyukai tugas tambahan. Berapa banyak pekerjaan yang harus Anda selesaikan? Setiap tahun selalu terus bertambah, bukan? Kabar baiknya adalah, hal itu tidak hanya terjadi kepada Anda. Orang lain juga sama. Lihatlah orang-orang disekitar Anda. Kenyataannya, pekerjaan mereka pun sudah banyak sekali, dan itupun masih akan bertambah lagi dari tahun ke tahun. Sekarang, mari kita bayangkan seandainya pekerjaan mereka yang sudah banyak itu ditambah lagi dengan pendelegasian yang Anda berikan kepada mereka. Kira-kira, mereka menerima pendelegasian itu dengan senang hati atau tidak ya? Untuk menemukan jawabannya, bisa Anda tanyakan kepada diri sendiri; seandainya seseorang memberi Anda tugas tambahan. Saya ragu jika Anda menerimanya dengan senang hati. Mengapa? Karena pada dasarnya, tidak seorang pun menyukai tugas tambahan.
4. Sadarilah bahwa orang bisa menerima penugasan dengan perasaan terpaksa. Jika seseorang tidak mungkin menerima tugas tambahan dengan senang hati, maka itu berarti kalaupun menerimanya dia melakukannya dengan perasaan terpaksa. Mungkin mereka terpaksa karena merasa takut. Mungkin takut dimarahi, karena mereka sering kena marah. Mungkin takut di PHK karena mereka sering mendengar seseorang dengan mudah menyanyikan lagu berjudul ‘fire’. Mungkin juga takut disebut tidak loyal, dan begitu banyak kemungkinan lain yang menjadikan mereka tekpasa menerimanya. Jenis-jenis keterpakasaan ini hanya bisa dipahami jika Anda mengenakan pakaian berlabel empati.
5. Sadarilah bahwa Anda tidak bisa berharap banyak dari mereka yang merasa terpaksa. Reputasi Anda sangat ditentukan oleh kualitas penyelesaian tugas dan tanggungjawab yang Anda emban. Oleh sebab itu, seseorang yang ingin menjaga reputasinya tetap baik harus memastikan bahwa tidak ada cacat dalam setiap hasil kerjanya. Lantas, apa yang bisa kita harapkan dari orang-orang yang merasa terpaksa melakukan sesuatu selain pekerjaan asal-asalan? Sungguh terlalu beresiko untuk mendelegasikan tugas-tugas Anda yang penting itu kepada orang lain. Karena Anda tidak bisa berharap kualitas kerja dan pencapaian nomor wahid dari mereka yang merasa terpaksa.
Jika Anda masih menyimpan keraguan tentang apa yang saya uraikan; Anda tidak sendiri. Memang tidak mudah untuk melepaskan diri dari pakem-pakem lama yang sudah terlanjur mendarah daging. Bahkan banyak yang bersikukuh mengatakan; “Anak buah saya enjoy-enjoy aja tuch dengan pendelegasian yang saya berikan.” Ada juga yang bilang;”Kalau mendelagasikannya dengan benar, pasti tidak terjadi hal-hal negatif seperti itu.” Tetapi, sudah saatnya untuk menguji kembali premis-premis delegasi yang Anda yakini. Semoga ke-5 aspek diatas bisa memberikan gambaran betapa pendelegasian itu sudah tidak relevan lagi dengan konteks kepemimpinan di abad ini. Tetapi…, jika mendelegasikan tugas itu bukan teknik memimpin yang handal, lantas adakah teknik lain yang bisa diandalkan? Tentu saja ada. Apa itu? Semoga kita memiliki umur panjang untuk membahasnya pada artikel berikutnya ya.
Mari Berbagi Semangat!

diteruskan oleh JOJO
Dadang Kadarusman